Did We Realize?

Sometimes in this life, we forget to appreciate the precious things we have. Don’t know it because of the daily routines activities that make us like that or because of we never give thanks for it. Instead of it, we need people around us. They will open our eyes, when we are also willing to listen to. Otherwise it useless. Open your heart, open your mind and give thanks :)

BESARNYA PENGHARGAAN

Seorang penjual daging
mengamati suasana sekitar tokonya. Ia sangat terkejut melihat seekor
anjing datang ke samping tokonya. Ia mengusir anjing itu, tetapi anjing
itu kembali lagi.

Maka, ia menghampiri anjing itu dan melihat ada
suatu catatan di mulut anjing itu. Ia mengambil catatan itu dan
membacanya, "Tolong sediakan 12 sosis dan satu kaki domba. Uangnya ada di
mulut anjing ini."

Si penjual daging melihat ke mulut anjing itu
dan ternyata ada uang sebesar 10 dollar di sana. Segera ia mengambil uang
itu, kemudian ia memasukkan sosis dan
kaki domba ke dalam kantung plastik dan
diletakkan kembali di mulut anjing itu. Si penjual daging sangat terkesan.
Kebetulan saat itu adalah waktu tutup tokonya, ia menutup tokonya dan
berjalan mengikuti si anjing.

Anjing tersebut berjalan menyusuri
jalan dan sampai ke tempat penyeberangan jalan. Anjing itu
meletakkan kantung plastiknya, melompat dan menekan tombol
penyeberangan,
kemudian menunggu dengan sabar dengan kantung plastik di mulut, sambil
menunggu lampu penyeberang berwarna hijau. Setelah lampu menjadi hijau, ia
menyeberang sementara si penjual daging mengikutinya. 

Anjing tsb
kemudian sampai ke perhentian bus, dan mulai melihat "Papan informasi jam
perjalanan ". Si penjual daging terkagum-kagum melihatnya. Si
anjing melihat "Papan informasi jam perjalanan " dan kemudian duduk
disalah satu bangku yang disediakan. Sebuah bus datang, si anjing
menghampirinya dan melihat nomor bus
dan kemudian kembali ke tempat duduknya.

Bus lain datang. Sekali lagi bus lainnya datang. Sekali lagi si
anjing menghampiri dan melihat nomor busnya. Setelah melihat bahwa bus
tersebut adalah bus yang benar, si anjing naik. Si penjual daging,
dengan kekagumannya mengikuti anjing itu dan naik ke bus tersebut.

Bus berjalan meninggalkan kota, menuju ke pinggiran kota. Si anjing
Melihat pemandangan sekitar. Akhirnya ia bangun dan bergerak ke depan bus, ia
berdiri dengan 2 kakinya dan menekan tombol agar bus berhenti. Kemudian ia
keluar, kantung plastik masih tergantung di mulutnya. Anjing tersebut
berjalan menyusuri jalan sambil dikuti si penjual daging. Si anjing berhenti
pada suatu rumah, ia berjalan menyusuri jalan kecil dan meletakkan kantung
plastik pada salah satu anak
tangga.

Kemudian, ia mundur, berlari dan
membenturkan dirinya ke pintu. Ia mundur, dan kembali membenturkan
dirinya ke pintu rumah tsb. Tidak ada jawaban dari dalam
rumah, jadi si
anjing kembali melalui jalan kecil, melompati tembok kecil dan berjalan
sepanjang batas kebun tersebut. Ia menghampiri jendela dan membenturkan
kepalanya beberapa kali, berjalan mundur, melompat balik ia menunggu di
pintu.

Si penjual daging melihat seorang pria tinggi besar membuka
pintu dan mulai menyiksa anjing tersebut, menendangnya, memukulinya, serta
menyumpahinya.

Si penjual daging berlari untuk menghentikan
pria tersebut, "Apa yang kau lakukan ..? Anjing ini adalah anjing yg
jenius. Ia bisa masuk televisi untuk kejeniusannya."

Pria itu
menjawab, "Kau katakan anjing ini pintar …?
Dalam minggu ini sudah dua kali
anjing bodoh ini lupa membawa kuncinya ..!"

Mungkin hal serupa pernah
terjadi dalam kehidupan Anda. Sesuatu yang bagi Anda kurang memuaskan,
mungkin adalah sesuatu yang sangat luar biasa bagi orang lain.

Yang
membedakan hanyalah seberapa besar penghargaan kita. Pemilik anjing tidak
menghargai kemampuan si anjing dan hanya terfokus pada kesalahannya
semata,
sehingga menganggapnya anjing yang bodoh. Sebaliknya, sang pemilik
toko menganggap anjing tersebut luar biasa pintarnya karena mampu berbelanja
sendirian.

Mungkin kita tidak pernah menyadari bahwa setiap harinya
kita menghadapi pilihan yang sama. Kita punya dua pilihan dalam menghadapi
hidup ini, apakah hendak
mengeluh atas berbagai hal yang kurang memuaskan,
atau bersyukur atas berbagai karunia yang telah kita terima.

Semuanya terpulang pada diri Anda sendiri.

Tuhan telah
mengkaruniai Anda dengan 86.400 detik per
hari. Sudah adakah yang Anda
gunakan untuk mengucap
syukur?

One Response to “Did We Realize?”

  1. Maria Says:

    Halo jeng….
    kangen nih…. i’ve been touched by this article.. thanks for let me reading this ya..

    Cheers

Leave a Reply